Senin, 02 Agustus 2010

Ucapan Pada Hari Raya 'Ied

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,

“Adapun ucapan selamat pada hari Raya ‘Ied, sebagaimana ucapan sebagian mereka terhadap sebagian lainnya jika bertemu setelah Shalat ‘Ied adalah, ‘TaqabbalallaHu minnaa wa minkum (Semoga Allah menerima amal kami dan kalian)’” (Majmuu’ al Fataawaa XXIV/253)

al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan,

“Dan kami riwayatkan di dalam Kitab al Mahaamiliyyat dengan sanad hasan dari Jubair Ibnu Nufair, dia berkata,

‘Para sahabat Rasulullah jika bertemu pada hari ‘Ied, sebagian mereka mengucapkan kepada sebagian lainnya, ‘TaqabbalallaHu minnaa wa minkum’” (Fathul Baari II/446)

Ibnu Qudamah menyebutkan bahwa Muhammad bin Ziyad pernah mengatakan,

“Aku pernah bersama Abu Umamah al Bahili dan lainnya dari Sahabat Nabi, dimana mereka jika kembali dari shalat ‘Ied, maka sebagian mereka berkata kepada sebagian lainnya, ‘TaqabbalallaHu minnaa wa minkum’” (al Mughni II/259)

Maraji’ :

Meneladani Rasulullah dalam Berhari Raya, Syaikh ‘Ali Hasan, Pustaka Imam Syafi’i, Jakarta, Cetakan Pertama, Sya’ban 1426 H/September 2005 M.
(http://diserambimesjid.blogspot.com/2009/10/ucapan-pada-hari-raya-ied.html)

Takdir sudah Ditentukan Lima Puluh Ribu Tahun Sebelum Langit dan Bumi Diciptakan

Definisi tentang iman dapat dilihat pada hadits shahih berikut ini, dari Umar bin Khaththab, bahwasannya Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda ketika ditanya oleh Malaikat Jibril tentang iman yaitu,

“Kamu beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab–kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari kiamat dan kepada takdir yang baik dan yang buruk” (HR Imam Muslim)

Salah satu cabang keimanan yang utama berdasarkan nash shahih di atas adalah bahwa beriman kepada takdir (qadar) yang Allah Ta’ala telah tetapkan kepada setiap hamba baik itu takdir baik maupun takdir buruk. Firman-Nya,

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di Bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya” (QS. Al Hadid : 22)

Dan dari ayat di atas jelas Allah Ta’ala katakan bahwa takdir yang Allah Ta’ala berikan kepada setiap hambanya sudah ditentukan sebelum Allah Ta’ala menciptakan langit dan Bumi sebagaimana sabda Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam,

“Allah telah menulis (di Lauhul Mahfuzh) segenap takdir makhluk 50.000 tahun sebelum Ia menciptakan langit dan bumi” (HR. Muslim)

Termasuk apakah ia menjadi ahli surga atau neraka pun, Allah Ta’ala sudah tentukan 50.000 tahun sebelum alam semesta ini diciptakan. Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda,

“Maka demi Allah, yang tiada tuhan yang haq disembah melainkan Dia, sesungguhnya seseorang diantara kamu beramal dengan amalan ahli surga sehingga tidak ada jarak antara dia dan surga kecuali sehasta, namun telah terdahulu ketentuan (takdir) Tuhan atasnya, lalu ia mengerjakan perbuatan ahli neraka, maka ia masuk ke dalamnya.

Dan sesungguhnya salah seorang diantara kamu beramal dengan amalan ahli neraka sehingga tidak ada jarak antara dia dan neraka kecuali sehasta, namun telah terdahulu ketentuan (takdir) Tuhan atasnya, lalu ia beramal dengan amalan ahli surga, maka ia masuk ke dalamnya” (HR. Imam al Bukhari dan Imam Muslim)

Pada hadits lain Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda,

“Tidaklah salah seorang dari kamu melainkan telah dituliskan tempat duduknya, apakah ia termasuk penduduk neraka atau penduduk surga” (HR. Imam al Bukhari)

Maka dari itu Imam Abu Ja’far Ath Thahawi (239 – 321 H) pada kitabnya Al Aqidah Ath Thahawiyah yang diberi ta’liq (komentar) oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz mengatakan, “Semenjak dahulu kala Allah Ta’ala telah mengetahui berapa jumlah hamba-Nya yang akan masuk surga dan yang akan masuk neraka. Total dari jumlah itu tidak akan bertambah dan tidak akan pula berkurang”

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani memberikan komentar atas ucapan Imam Abu Ja’far Ath Thahawi ini sebagai berikut,

“Nampaknya Imam Ath Thahawi merujuk kepada hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amru, dia berkata, ‘Pernah suatu ketika Rasulullah ShallallaHu ’alaiHi wa sallam keluar menemui kami memegang 2 kitab … Kemudian sambil menunjuk kitab yang ada di tangan kanan,

Beliau ShallallaHu ’alaihi wa sallam berkata, ’Kitab ini berasal dari Tuhan Semesta Alam yang memuat nama–nama penduduk surga yang dilengkapi nama bapak–bapak dan nama–nama kabilah mereka. Kemudian Allah mengumpulkan mereka menjadi satu (dalam kitab ini). Jumlah nama–nama yang ada dalam kitab ini tidak akan bertambah maupun berkurang selama–lamanya’ (HR. At Tirmidzi, hadits ini dishahihkan oleh Imam At Tirmidzi dan Syaikh Al Albani)”

Namun demikian, tidak ada seorangpun tahu apakah ia menjadi ahli surga atau ahli neraka karena hanya Allah Ta’ala sajalah yang mengetahui perkara – perkara yang ghaib. Firman Allah Ta’ala,

“Katakanlah tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allah” (QS. An Naml 65)

Artinya walaupun seorang manusia apakah nanti takdirnya masuk ke dalam surga atau ke dalam neraka maka ia sebagai seorang hamba Allah wajib selalu berusaha mendapatkan ampunan dari Allah Ta’ala dan selalu meminta agar dimasukan ke dalam surga-Nya,

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang–orang yang bertakwa” (QS Al Imran 133)

Dan tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah Ta’ala walaupun hanya sebentar,

“Dan janganlah berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir” (QS Yusuf 87)

Juga dengan beriman kepada takdir Allah tidaklah berarti memberikan kesempatan kepada hamba untuk berdalih dengannya dalam meninggalkan perintah Allah atau melanggar apa yang dilarang-Nya. Karena Allah Ta’ala berfirman,

“Bertakwalah kepada Allah sesuai dengan kemampuanmu” (QS At Taghabun 16), yang artinya seorang hamba tidak akan dibebani kecuali sebatas kemampuannya

Dan sabda Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam,

“Tidaklah salah seorang dari kamu melainkan telah dituliskan tempat duduknya, apakah ia termasuk penduduk neraka atau penduduk surga”.

Maka berkatalah seorang laki–laki dari kaumnya, “Tidakah (dengan demikian) kita berserah diri saja, wahai Rasulullah ?”

Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam menjawab, “Tidak, tetapi berusahalah ! Karena masing – masing dimudahkan kepada (kententuan) penciptaannya” (HR. Imam al Bukhari)

Akhirnya dapat difahami bahwa hakekat takdir adalah rahasia Allah Ta’ala yang telah ditentukan atas hambanya sebelum Allah Ta’ala menciptakan seluruh isi langit dan Bumi dan sebagai manusia maka wajib bagi kita untuk selalu berusaha mencapai ketakwaan kepada Allah Ta’ala, karena pada hakekatnya Allah Ta’ala tidak membebani kewajiban yang mana kita tidak sanggup untuk memikulnya.

Dan takdir itu sendiri tidaklah diketahui oleh malaikat yang dekat dengan-Nya ataupun oleh Nabi yang diutus karena Allah Ta’ala telah menutup ilmu takdir dari makhluk–makhluk-Nya sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam kitab-Nya,

“Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai” (Al Anbiya’ 23)

Maraji’ :

40 Hadits Shahih, Imam An Nawawi, Direktorat Percetakan dan Penerbitan Departemen Agama Saudi Arabia, 1422 H.

Al ‘Aqidah Ath Thahawiyah, Imam Abu Ja’far Ath Thahawi, ta’liq oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, At Tibyan, Solo, Edisi Indonesia, November 2000 M.

Aqidah Thahawiyah, Imam Abu Ja’far Ath Thahawi, ta’liq oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, Media Hidayah, Cetakan Pertama, Mei 2005 M

Tauhid, Abdul Aziz bin Muhammad Alu Abdul Lathif. Direktorat Percetakan dan Penerbitan Departemen Agama Saudi Arabia, 1422 H.
http://diserambimesjid.blogspot.com/2009/10/takdir-sudah-ditentukan-lima-puluh-ribu.html)

Orang-orang yang Didoakan Malaikat

Allah Ta’ala berfirman,

“Sebenarnya (malaikat – malaikat itu) adalah hamba – hamba yang dimuliakan, mereka tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah – perintah-Nya. Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka dan yang dibelakang mereka, dan mereka tidak memberikan syafa’at melainkan kepada orang – orang yang diridhai Allah, dan mereka selalu berhati – hati karena takut kepada-Nya” (QS Al Anbiyaa’ 26-28)

Inilah orang – orang yang didoakan oleh para malaikat :

(1) Orang yang tidur dalam keadaan bersuci. Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Umar, bahwa Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa ‘Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci’” (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)

(2) Orang yang duduk menunggu shalat. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda, “Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia’” (Shahih Muslim no. 469)

(3) Orang – orang yang berada di shaf bagian depan di dalam shalat. Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra’ bin ‘Azib, bahwa Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang – orang) yang berada pada shaf – shaf terdepan” (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud I/130)

(4) Orang – orang yang menyambung shaf (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalm shaf). Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah, bahwa Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang – orang yang menyambung shaf – shaf” (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/272)

(5) Para malaikat mengucapkan ‘Amin’ ketika seorang Imam selesai membaca Al Fatihah. Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda, “Jika seorang Imam membaca ‘ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh dhaalinn’, maka ucapkanlah oleh kalian ‘aamiin’, karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu” (Shahih Bukhari no. 782)

(6) Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda, “Para malaikat akan selalu bershalawat kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, ‘Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia’” (Al Musnad no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini)

(7) Orang – orang yang melakukan shalat shubuh dan ‘ashar secara berjama’ah. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda, “Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat ‘ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat ‘ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, ‘Bagaimana kalian meninggalkan hambaku ?’, mereka menjawab, ‘Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat’” (Al Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)

(8) Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda’, bahwasannya Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda, “Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata ‘aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan’” (Shahih Muslim no. 2733)

(9) Orang – orang yang berinfak. Imam al Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda, “Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak’. Dan lainnya berkata, ‘Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit’” (Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010)

(10) Orang yang makan sahur. Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, meriwayaatkan dari Abdullah bin Umar, bahwa Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang – orang yang makan sahur” (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519)

(11) Orang yang menjenguk orang sakit. Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib, bahwa Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh” (Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar, “Sanadnya shahih”)

(12) Seseorang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain. Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily, bahwa Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda, “Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain” (dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343)


Maraji’ :

Disarikan dari Buku Orang – orang yang Didoakan Malaikat, Syaikh Fadhl Ilahi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Februari 2005
(http://diserambimesjid.blogspot.com/2009/10/orang-orang-yang-didoakan-malaikat.html)

Khatib Jum'at Berisyarat dengan Jari Telunjuk ketika Berdoa

Dari Abu Hushain, dari ‘Umarah bin Ruaibah radhiyallaHu ‘anHu, ia berkata,

“(Bahwa) ia pernah melihat Bisyr bin Marwan di atas mimbar (berdoa) sambil mengangkat kedua tangannya, lalu ia berkata (menegur Bisyr bin Marwan), ‘Semoga Allah memburukan kedua tangan ini, sesungguhnya aku pernah melihat Rasulullah (berdoa) tidak lebih beliau berbuat seperti ini’”. Kemudian ‘Umarah bin Ruaibah radhiyallaHu ‘anHu berisyarat dengan jari telunjuknya. (HR. Muslim 3/13, Kitab Jumu’ah, Bab Takhfifush shalat wal khutbah dan lainnya)

Dari hadits yang mulia ini dapat diambil pelajaran bahwa salah satu sunnah yang dilakukan oleh Khatib Jum’at adalah berdoa dengan menggunakan isyarat jari telunjuk bukan dengan mengangkat kedua tangan seperti yang sering dilihat oleh sebagian besar kaum muslimin di Indonesia ketika sedang mendengarkan khutbah Jum’at.

Lalu bagaimana dengan makmum shalat Jum’at apakah mengangkat tangan dan mengaminkan ? Jawabannya adalah tidak ada dalil yang kuat mengenai masalah tersebut kecuali dalil yang dha’if berikut ini,

Dari Zuhri, ia berkata, “Adalah Rasulullah apabila berkhotbah pada hari Jum’at, beliau berdoa dan berisyarat dengan jarinya sedangkan para sahabat mengaminkannya” (HR. Al Baihaqi dalam Kitab Sunanul Kubra 3/120)

Hadits ini dha’if karena Zuhri, orang yang meriwayatkan hadits ini bukanlah seorang sahabat sehingga hadits ini terputus (munqathi’), maka dari itu hadits ini tidak dapat dijadikan dalil ataupun sandaran syar’i, kecuali ada sanad lain yang menguatkannya.

Dengan demikian jalan yang lebih hati - hati dan mengikuti sunnah yaitu sebaiknya makmum shalat jum’at tidak mengangkat kedua tangan ataupun mengaminkan doa ketika Khatib Jum’at sedang berdoa. Wallahu a’lam.

Berkaitan dengan masalah ini Ibnu Abidin rahimahullah mengatakan, al Baqqaliyyu mengatakan, “Jika seorang khatib mulai berdoa maka tidak diperbolehkan bagi jama’ah mengangkat kedua tangannya” (Haasyiyah Ibnu Abidin, bab al Jumu’ah)

Tetapi dalam hal ini ada pengecualian yaitu ketika dalam khutbah Jum’at, khatib Jum’at membaca doa istisqa’ atau doa meminta hujan maka disunnahkan bagi khatib untuk mengangkat kedua tangan dan para jamaah Jum’at mengaminkan doa khatib tersebut sebagaimana hadits berikut,

“Nabi tidak mengangkat kedua tangannya sedikit pun dari doa beliau kecuali pada doa meminta hujan, sampai terlihat warna putih kedua ketiaknya” (HR. Bukhari no. 1031 dan Muslim no. 895, dari Anas radhiyallaHu ‘anHu)

Juga keterangan lain yang berkaitan dengan doa istisqa’ dari Anas, ia berkata,

“…Rasulullah mengangkat tangan untuk berdoa dan jamaah pun mengangkat tangan mereka beserta Nabi, mereka berdoa …” (HR. Bukhari no. 1029, Kitab Istisqa’)

Maraji’ :

75 Kesalahan Seputar Hari dan Shalat Jum’at, Syaikh Wahid ‘Abdus Salam Baali, Pustaka Al Inabah, Bogor, Cetakan Pertama, Dzul Qa’dah 1426 H/Desember 2005 M.

Al Masaa-il Jilid 2, Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat, Darus Sunnah, Jakarta, Cetakan Ketiga, 1426 H/2005 M.

Al Masaa-il Jilid 4, Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat, Darul Qalam, Jakarta, Cetakan Pertama, 1425 H/2004 M.

Petunjuk Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam dalam Khutbah Jum’at, Dr. Anis bin Ahmad bin Thahir, Pustaka Imam Syafi’i, Bogor, Cetakan Pertama, Februari 2004 M.
(http://diserambimesjid.blogspot.com/2009/09/khatib-jumat-berisyarat-dengan-jari.html)

Kedudukan Hadits Dha'if

Berdasarkan sanadnya atau orang yang merawikannya maka oleh Imam Abu Isa At Tirmidzi (209 H – 279 H) derajat hadits dibagi menjadi 3 macam yaitu shahih, hasan dan dha’if. Sebelumnya pada era Imam Ahmad bin Hambal (164 H – 241 H) derajat hadits hanya dibagi 2 yaitu shahih dan dha’if, sedangkan hadits dha’if dibagi menjadi 2 lagi yaitu hasan dan dha’if.

Maka yang dimaksud oleh Imam Ahmad bin Hambal membolehkan menggunakan hadits dha’if dalam fadhaa-ilul a’mal ataupun targhib wat tarhib adalah hadits dha’if yang hasan bukan hadits dha’if yang dha’if walaupun tingkat kedha’ifannya ringan. Demikianlah penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim Al Jauziyah.

Salah satu alasan yang kuat sebuah hadits dikatakan dha’if adalah karena ada salah seorang perawi hadits atau lebih memiliki kelemahan, diantara adalah orang tersebut hapalannya kurang kuat, memiliki sifat pendusta, majhul atau tidak diketahui identitasnya dan lain sebagainya. Berikut contoh haditsnya :

Dari Anas bin Malik, ia berkata, “Senantiasa Rasululullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam berqunut pada shalat shubuh sehingga beliau berpisah dari dunia” (HR. Ahmad, Baihaqi, Daruquthni, Hakim, Abdur Razzaq dan Abu Nu’aim)

Pada sanad hadits tentang qunut terus menerus pada waktu shalat shubuh di atas terdapat rawi yang bernama Abu Ja’far Ar Razi yang dilemahkan oleh para ahli hadits :

Imam Ahmad bin Hambal dan An Nasa’i berkata, “Ia (Ar Razi) bukan orang yang kuat riwayatnya”.

Imam Abu Zur’ah berkata, “(Ar Razi) banyak salahnya”

Imam Al Fallas berkata, “Ar Razi buruk hafalannya”

Imam Ibnul Madini berkata, “Ar Razi kepercayaan akan tetapi sering keliru dan suka salah” (Al Mizanul I’tidal 3 : 319)

Ibnu Hibban, Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim telah melemahkan hadits Abu Ja’far Ar Razi ini.

Hadits yang kedua,

Dari Ibnu Abbas, ia berkata, “… Apabila engkau telah selesai berdoa, maka usapkanlah mukamu dengan kedua telapak tanganmu itu” (HR. Ibnu Majah no. 1181)

Hadits tersebut diatas dha’if karena ada seorang rawi bernama Shalih bin Hassan Al Nadhary. Tentang dia para ulama mengomentari :

Imam Bukhari berkata, “Mungkarul hadits (Orang yang diingkari haditsnya)”

Imam Abu Hatim berkata, “Mungkarul hadits, dha’if”

Imam Ahmad bin Hambal berkata, “Tidak ada apa – apanya (maksudnya lemah)”

Imam An Nasa’i, “Matruk (orang yang ditinggalkan haditsnya)”

Imam Ibnu Ma’in, “Dia itu dha’if”

Imam Abu Dawud telah melemahkannya.

Kemudian hadits yang berikutnya,

Aisyah berkata, “Aku melihat Rasulullah ketika beliau hampir wafat, disisinya ada sebuah wadah berisi air, kemudian beliau memasukan tangannya ke dalam wadah tersebut, kemudian mengusap mukanya dengan air sambil membaca, ‘Ya Allah berilah pertolongan kepadaku dalam beratnya kematian atau sakaratul maut’” (HR. At Tirmidzi)

Hadits tersebut dha’if karena ada perawi yang bernama Musa bin Sarjis yang majhul atau yang tidak dikenal identitasnya. Disamping ada rawi yang majhul, matan (isi/redaksi) berbeda dengan hadits yang lain yang lebih shahih, Rasulullah bersabda, “Tidak ada Tuhan selain Allah, sesungguhnya bagi kematian itu adalah sakarat (rasa sakit yang sangat)” (HR. al Bukhari) (lihat Kitab Dha’if Sunan At Tirmidzi no. 164 dan Takhrij Riyaadhus Shalihin no. 912)

Demikian juga hadits yang isinya atau matannya bertentangan dengan Al Qur’an atau hadits yang lebih kuat periwayatannya maka hadits tersebut derajatnya dha’if, hadits ini juga sering disebut sebagai hadits syadz. Berikut contoh hadits yang bertentangan dengan Al Qur’an yang terdapat Kitab Hayatush Shahabah,

Ketika Rasulullah kembali dari Thaif dan penduduknya yang telah beliau seru kepada Islam tapi mereka menolak dan menyakiti beliau. Beliau duduk dan berkata, “Ya Allah, aku mengadu kepada-Mu lemahnya kekuatanku, sedikitnya usahaku dan hinanya aku atas manusia. Kepada siapa Engkau meninggalkanku ?, kepada musuh yang memandangku dengan muka masam ataukah …”.

Hadits tersebut di atas sangat bertentangan dengan Al Qur’an yaitu pada ayat, “Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tidak pula benci kepadamu” (QS Adh Dhuha ayat 3) maka dari itu hadits tersebut dikategorikan sebagai hadits dha’if.

Termasuk dikategorikan hadits dha’if jika suatu hadits memiliki sifat mursal yaitu tabi’in meriwayatkan langsung dari Rasulullah seperti hadits berikut ini,

Dari Mu’adz bin Zuhrah, bahwasannya telah sampai kepadanya, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi was sallam apabila berbuka (puasa) beliau mengucapkan, “Allahumma laka shumtu …” (HR Abu Dawud no. 2358, Baihaqi 4/239 dan lainnya)

Hadits tersebut di atas dikatakan mursal karena Mu’adz bin Zuhrah adalah seorang tabi’in bukan seorang sahabat, jadi ada sanadnya yang terputus antara sahabat dan tabi’in sehingga haditsnya dikategorikan dha’if.

Istilah hadits mursal hampir sama dengan hadits munqati’, namun bedanya hadits munqati’ ini terputus sanadnya di tengah seperti contoh hadits berikut,

Dari Hudzaifah bin Al Yaman ra. berkata, “Rasulullah SAW melaknat orang yang duduk di tengah – tengah lingkaran majelis” (HR Abu Dawud).

Hadits tersebut di atas munqati’ karena seorang perawi Abu Mijlas Lahiq bin Umaid tidak mendengar langsung dari sahabat Hudzaifah radhiyallaHu ‘anHu sebagaimana yang diterangkan Ibnu Ma’in dan lainnya (Takhrij Riyadhush Shalihin no. 830)

Demikianlah beberapa alasan mengapa sebuah hadits dikatakan dha’if, dan masih ada beberapa alasan lain yang dapat menyebabkan suatu hadits jatuh kepada derajat dha’if, seperti rawinya seorang mudallis (menyembunyikan cacat hadits), atau rawinya memberikan ziyadah (tambahan, seperti tambahan pada doa setelah adzan, “innaka laa tukhliful mii’ad”) pada hadits tersebut dan lain sebagainya.

Namun demikian hadits dha’if tidak sampai kepada derajat hadits maudhu’ (palsu) karena sebagian besar orang – orang yang merawikan hadits – hadits dha’if adalah orang – orang shalih tetapi karena memiliki illat (penyakit/cacat) yang sudah dijelaskan sebelumnya maka tingkat kebenaran haditsnya dipertanyakan atau jatuh pada daerah zhan (prasangka) – yang berarti hadits tersebut bisa benar dan bisa salah.

Dan kaidah agama secara umum yang berkaitan dengan zhan atau sesuatu yang samar (belum jelas benar atau salahnya) adalah sebagai berikut :

(1) Firman Allah Ta’ala, “…Innazh zhanna laa yughnii minal haqqi syaiaa” yang artinya “… Sesungguhnya zhan (prasangka) itu tidak dapat menggantikan kebenaran sedikitpun” (QS Yunus 36)

(2) Sabda Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam berkata, “Sesungguhnya yang halal jelas dan yang haram itu jelas dan diantara keduanya ada hal yang samar – samar, (namun) kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. Maka barangsiapa menjaga dirinya dari hal – hal yang samar – samar tersebut berarti dia telah menjaga agama dan kehormatannya, dan barangsiapa yang jatuh dalam melakukan hal – hal yang samar – samar tersebut, maka dia terperangkap ke dalam hal yang haram” (HR. al Bukhari dan Muslim, Al ‘Arba’iin An Nawawiyyah)

Maka telah jelaslah bahwa hadits dha’if tidak dapat dijadikan hujjah ataupun dalil untuk diamalkan baik di dalam masalah ibadah, mu’amalah, adab, akhlak apalagi masalah aqidah !. Berikut nukilan perkataan muhadits dan mujaddid kontemporer Syaikhul Islam Muhammad Nashiruddin Al Albani,

“Menurut keyakinan saya, kita sudah cukup menggunakan hadits – hadits tersebut (shahih dan hasan) saja dan tidak perlu menggunakan hadits dha’if. Sebab hadits dha’if tidak dapat memberikan pengertian kecuali sebatas dugaan (zhan) saja. Dalam hal ini tidak ada perbedaan di kalangan ulama’. Seperti yang dikatakan oleh Allah Ta’ala, ‘…Innazh zhanna laa yughnii minal haqqi syaiaa’ yang artinya “ … Sesungguhnya zhan itu tidak dapat menggantikan kebenaran sedikitpun’ (QS Yunus 36)”.

Tetapi suatu hadits dha’if dapat naik derajatnya menjadi hasan jika ada hadits lain yang shahih, hasan ataupun yang sebanding yang menjadi penguat atau yang biasa disebut sebagai syawahiidnya. Namun bukan hadits dhaif, maudhu’ atau hadits mungkar yang menjadi penguatnya !.

Dan hadits dha’if yang telah diberikan penguat oleh hadits lain dengan matan yang semakna maka hadits tersebut naik statusnya menjadi hasan lighairihi atau hadits yang naik derajatnya menjadi hasan karena ada hadits lain sebagai penguatnya.

Contoh hadits dengan status hasan lighairihi adalah hadits tentang shalat tasbih dari jalan Abdullah bin Abbas yang diriwayatkan oleh Abu Dawud (hadits no. 1297) dan Ibnu Majah (hadits no. 1386). Hadits ini awalnya dha’if namun karena ada penguatnya maka hadits ini naik menjadi hasan lighairihi. Diantara ulama’ yang menguatkan hadits ini adalah : Abdullah bin Mubarak, Imam An Nawawi, Al Baihaqi, As Suyuthi, Ibnu Hajar Al Asqalani juga dikuatkan oleh ulama’ ahli hadits kontemporer seperti Ahmad Syakir dan Al Albani.

Perlu diperhatikan bagi orang–orang yang membaca atau menulis suatu hadits Rasulullah bahwa hadits–hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim yang mereka tempatkan pada Kitab Shahih mereka maka hadits–haditsnya senantiasa shahih, namun hadits–hadits yang diriwayatkan oleh selain mereka seperti oleh Imam At Tirmidzi, Imam Abu Daud, Imam An Nasa’i, Imam Ibnu Majah, Imam Ahmad dan lainnya ada yang tidak shahih meskipun sebagian besar hadits yang mereka riwayatkan adalah shahih.

Jadi ketika seseorang menulis suatu hadits yang diriwayatkan oleh selain Imam Bukhari dan Imam Muslim perlulah kiranya mencantumkan status haditsnya shahih, hasan atau dha’if dan lebih sempurna lagi jika disebutkan ulama’ yang menyebutkan statusnya tersebut.

Semoga Bermanfaat,

Maraji’:

Al Masaa-il, Abul Hakim bin Amir Abdat, Darul Qalam, Jakarta, Cetakan Kedua, Tahun 2004 M.

Hadits – hadits Dha’if Dalam Riyadhus Shalihin, Muhammad Nashiruddin Al Albani, Pustaka Azam, Jakarta, Cetakan Pertama, Edisi Revisi, Tahun 1992

Meneladani Sifat Shalat Sunnah Rasulullah, Muhammad bin Umar bin Salim Bazmul, Pustaka Imam Syafi’i, Bogor, Cetakan Kedua, 2004 M

Sifat Shalat Nabi, Muhammad Nashiruddin Al Albani, Pustaka Firdaus, Cetakan Pertama, Tahun 2002 M

Taubat Dari Thariqat Sufi, Muhammad Jamil Zainu, Pustaka At Tibyan, Solo.
(http://diserambimesjid.blogspot.com/2009/09/kedudukan-hadits-dhaif.html)

Doa Malam yang Mustajab

Dari Ubadah bin Shamit radhiyallaHu ‘anHu, Rasulullah ShallallaHu ’alaiHi wa sallam bersabda, “Barangsiapa bangun pada malam hari dan berkata,

‘Laa ilaHa illallaHu wahdaHu laa syariikalaH, laHul mulku wa laHul hamdu, , wa Huwa ‘alaa kulli syai-in qadiir, wal hamdulillaH, wa subhaanallaH, wa laa ilaHa illallaHu wallaHu akbar, wa laa haula wa laa quwwata illa billaH’

[Tiada ilah kecuali Allah satu- satunya tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nyalah seluruh kerajaan dan seluruh pujian. Dia menghidupkan dan mematikan dengan di tangan-Nyalah segala kebaikan, dan Dia berkuasa atas segala sesuatu. Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah. Tidak ada ilah kecuali Allah dan Allah Maha Besar. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan izin Allah]

kemudian dia berkata,

‘Allahummaghfirlii’ [Ya Allah ampunilah aku]

(atau dia berdoa), maka akan dikabulkan doanya. Dan jika dia berwudhu (lalu shalat) maka diterimalah shalatnya” (HR. At Tirmidzi dan lainnya, lihat pula di al Adzkar an Nawawi no. 307)
(http://diserambimesjid.blogspot.com/2009/09/doa-malam-yang-mustajab.html)

Jihad, Haji, Shalat Jum'at dan Shalat 'Ied Bersama Pemerintah Muslim

Dari Abu Hurairah radhiyallaHu ‘anHu, Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya seorang pemimpin itu adalah pelindung/perisai yang dibawah kepemimpinannya diperangilah (musuh) dan dengannyalah dihindarkan (bahaya musuh)” (HR. al Bukhari no. 2957 dan Muslim no. 1841)

Hadits di atas merupakan dalil bahwa jihad fii sabilillah harus dilaksanakan bersama para pemimpin atau waliyul ‘amr, baik bersama pemimpin yang adil maupun pemimpin yang fajir. Dan hal tersebut telah menjadi kesepakatan ulama ahlus sunnah baik yang terdahulu hingga sekarang.

Al Imam al Bukhari rahimahullah meletakkan bab khusus di dalam Kitab Shahih-nya yaitu, Bab al Jihad tetap berlangsung bersama (pemimpin) yang baik maupun yang jahat. Dalilnya adalah hadits yang dibawakan oleh ‘Urwah al Bariqiy radhiyallaHu ‘anHu, bahwa Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda,

“Kuda itu senantiasa terikat di ubun-ubunnya kebaikan sampai Hari Kiamat, yaitu pahala dan ghanimah” (HR. al Bukhari no. 2852 dan Muslim no. 1871-1872)

Berkata al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah,

“Dan hal itu tidak dibatasi hanya pada imam/pemimpin yang baik saja. Sehingga dengan demikian hadits ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan dalam mendapatkan keutamaan tersebut antara peperangan bersama penguasa yang adil atau bersama penguasa yang jahil” (Fathul Baary VII/70)

Al Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah berkata dalam Kitabnya Ushulus Sunnah,

“Berperang (dilakukan) bersama umara’ terus berlangsung hingga Hari Kiamat, terlepas apakah dia seorang penguasa yang baik atau yang jahat”.

Al Imam ‘Ali Ibnul Madini rahimahullah berkata,

“Berperang (dilakukan) bersama umara’ terus berlangsung hingga Hari Kiamat, terlepas apakah dia seorang penguasa yang baik atau jahat” (Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah oleh Imam al Lalika-i hal. 190-197)

Al Imam Abu Ja’far ath Thahawy rahimahullah di dalam Kitabnya yang sangat terkenal al Aqidah ath Thahawiyah berkata,

“Haji dan Jihad keduanya terus berlangsung bersama waliyul ‘amr (pemerintah) muslimin, yang baik atau pun yang jahat, hingga hari kiamat. Tak ada sesuatu pun yang dapat membatalkan (hukum tersebut), tidak pula menggugurkannya”

Al Imam ash Shabuni rahimahullah dalam Kitabnya ‘Aqidatus salaf Ash-habil Hadits berkata,

“Ash-habul hadits berpandangan (disyari’atkannya) shalat Jum’at, shalat ‘Ied dan shalat-shalat yang lainnya bersama penguasa kaum muslimin, yang baik atau pun yang fajir. Mereka juga berpandangan (disyari’atkannya) jihad melawan orang-orang kafir bersama penguasa walaupun mereka (para penguasa itu) orang-orang yang kejam dan jahat”

Al Imam al Barbahari rahimahullah berkata dalam Syarhus Sunnah,

“Haji dan perang (dilakukan) bersama penguasa (kaum muslimin) akan tetap terus berlangsung”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam al ‘Aqidah al Wasithiyyah,

“(Ahlus Sunnah wal Jama’ah) berkeyakinan (disyari’atkannya) pelaksanaan ibadah haji, jihad dan shalat Jum’at bersama para penguasa yang baik dan yang jahat”

Al Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,

“Perkara jihad diserahkan (sepenuhnya) kepada imam (pemerintah) dan ijtihadnya dan wajib atas seluruh rakyat untuk mentaati kebijakan-kebijakan yang telah ditentukan oleh penguasanya” (Kitab al Mugni XIII/16)

Al Imam al Qurthuby rahimahullah berkata,

“Tidak boleh bagi as Saraya (pasukan tempur khusus) untuk keluar (berangkat bertempur) kecuali dengan izin penguasa, agar penguasa tersebut dapat memantau dan membantu dari belakang mereka” (Kitab al Jami’ li Ahkamil Qur’an V/275)

Demikianlah pendapat para salafush shalih yang menyatakan bahwa berjihad fii sabilillah, harus dengan seizin para penguasa dan bersama dengan para penguasa, baik penguasa yang adil maupun yang fajir.

Semoga kaum muslimin dapat mengambil hikmah dan teladan dari apa yang telah dicontohkan oleh generasi-generasi terbaik umat Islam. Dan jika pada suatu hari seruan untuk berjihad fii sabilillah telah muncul dari penguasa negeri atau pemerintah, maka wajiblah bagi setiap kaum muslimin yang mampu untuk menyambutnya.

Rasulullah ShalallaHu alaiHi wa sallam bersabda, “Wa idzaas tunfirtum, fanfiruu !” yang artinya “Dan jika kalian diperintahkan untuk pergi berperang (berjihad), maka berangkatlah !” (HR. Bukhari no. 1834 dan Muslim no. 1353)

(http://diserambimesjid.blogspot.com/2009/09/jihad-haji-shalat-jumat-dan-shalat-ied.html)

Hari-hari yang Dilarang untuk Berpuasa

Pertama, Dua hari raya (‘Iedul Fithri dan ‘Iedul Adha)

Dari Abu ‘Ubaid, budak yang dimerdekakan Ibnu Azhar, ia berkata,

“Aku merayakan hari ‘Ied bersama ‘Umar bin al Khaththab, kemudia dia berkata,

‘Ini adalah dua hari yang Rasulullah melarang kita untuk berpuasa padanya, hari dimana kalian berbuka puasa dan hari lainnya, hari dimana kalian memakan hewan kurban kalian’” (HR. al Bukhari no. 1990, Muslim no. 1137, Abu Dawud no. 2399, at Tirmidzi no. 769 dan Ibnu Majah no. 1722)

Kedua, Hari Tasyriq

Hari Tasyriq adalah hari setelah ‘Iedul Adha, namun para ulama telah berselisih pendapat apakah dia dua hari atau tiga hari.

Dari Aisyah radhiyallaHu ‘anHa dan Ibnu ‘Umar radhiyallaHu ‘anHu, mereka berkata,

“Tidak diizinkan berpuasa pada hari-hari tasyriq, kecuali orang yang tidak mendapatkan hewan kurban (di Mina saat ibadah Haji)” (HR. al Bukhari no. 1977)

Ketiga, Puasa Hari Jum’at saja

Dari Abu Hurairah radhiyallaHu ‘anHu, Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda,

“Janganlah seorang diantara kalian berpuasa pada hari Jum’at kecuali ia berpuasa sehari sebelumnya atau sesudahnya” (HR. al Bukhari no. 1985, Muslim no. 1144, Abu Dawud no. 6403 dan at Tirmidzi no. 740)

Keempat, Puasa Hari Sabtu saja

Dari ‘Abdullah bin Busr as Sulami radhiyallaHu ‘anHu, dari saudarinya ash Shamma radhiyallaHu ‘anHa, Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda,

“Laa tashuumuu yaumas sabti illaa fiimaf turidha ‘alaykum, wa in lam yajid ahadukum illaa lihaa-a ‘inabatin aw ‘uuda syajaratin falyamdhughHaa”

yang artinya,

“Janganlah kalian berpuasa pada Hari Sabtu, kecuali yang telah diwajibkan atas kalian. Jika salah seorang diantara kalian tidak meendapatkan (makanan untuk berbuka) kecuali kulit anggur atau ranting pohon, maka hendaklah ia mengunyahnya” (HR. Abu Dawud no. 2404, at Tirmidzi no. 741 dan Ibnu Majah no. 1726, dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud no. 2116)

Kelima, Pertengahan kedua pada Bulan Sya’ban khusus bagi mereka yang tidak mempunyai kebiasaan berpuasa.

Dari Abu Hurairah radhiyallaHu ‘anHu, Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda,

“Jika telah sampai pertengahan Bulan Sya’ban, maka janganlah kalian berpuasa” (HR. Abu Dawud no. 2320, at Tirmidzi no. 735 dan Ibnu Majah no. 1651, dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam Shahih Sunan Ibni Majah no. 1339)

Dari Abu Hurairah radhiyallaHu ‘anHu, Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda,

“Janganlah sekali-kali salah seorang diantara kalian mendahului Ramadhan dengan puasa satu atau dua hari sebelumnya, kecuali jika orang itu tengah mengerjakan suatu puasa yang biasa dilakukan, maka hendaklah ia puasa pada hari itu” (HR. al Bukhari no. 1914, Muslim no. 1082, Abu Dawud no. 2318, at Tirmidzi no. 680, an Nasai IV/149 dan Ibnu Majah no. 1650)

Maraji’:

Panduan Fiqih Lengkap Jilid 2, Syaikh ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi al Khalafi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Syawwal 1426 H/November 2005 M.

Semoga Bermanfaat.

Catatan Tambahan :

Selain yang berkaitan dengan waktu atau hari, terdapat pula hal-hal yang menyebabkan seorang muslim dilarang untuk melakukan puasa, yaitu :

Pertama, puasa selamanya, dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallaHu ‘anHu, Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda,

“Laa shaama man shaamal abada” yang artinya “Tidak ada puasa bagi orang yang puasa selamanya” (HR. al Bukhari no. 1979 dan Muslim no. 1159)

Kedua, seorang muslimah dilarang berpuasa sunnah kecuali dengan izin dari suaminya. Dari Abu Hurairah radhiyallaHu ‘anHu, Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda,

“Laa tashumil mar-atu wa ba’luHaa syaaHidun illaa bi idzniHi” yang artinya “Tidak dibolehkan seorang istri berpuasa di saat suaminya di rumah kecuali dengan izinnya” (HR. al Bukhari no. 5192, Muslim no. 1026, Abu Dawud no. 2141, at Tirmidzi no. 779, dan Ibnu Majah no. 1761)

Dzikir Nabi setelah Shalat Fardhu

Berikut adalah beberapa hadits–hadits shahih tentang dzikir Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam setelah selesai shalat fardhu :

Hadits Pertama

Dari Tsauban radhiyallaHu ‘anHu, ia berkata,

“Biasanya Rasulullahu shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila telah selesai dari shalatnya, beliau mengucapkan :

AstaghfirullaH (3 kali), kemudian beliau mengucapkan :

AllaHumma antas salaam wa minkas salaam tabaarakta yaa dzal jalaali wal ikraam” (HR. Muslim 2/94, Ahmad 5/5275, Abu Dawud no. 1513, An Nasa’i no. 3/58, Ibnu Khuzaimah no. 737, Ad Darimi 1/311 dan Ibnu Majah no. 928)

Hadits Kedua

Dari Abu Hurairah radhiyallaHu ‘anHu, Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang bertasbih/mensucikan Allah di belakang setiap shalat wajib 33 kali, dan bertahmid/memuji Allah 33 kali, dan bertakbir/membersarkan Allah 33 kali, maka jumlahnya menjadi 99 kali. Kemudian ia menyempurnakan menjadi seratus dengan mengucapkan :

Laa ilaHa illallaHu wahdaHu laa syariikalaHu laHul mulku wa laHul hamdu wa Huwa ‘alaa kulli syai-in qadiir

Niscaya diampunkan kesalahan – kesalahannya meskipun seperti buih di lautan” (HR. Muslim 2/98, Ahmad 2/371, Ibnu Khuzaimah no. 750 dan Baihaqi 2/187)

Hadits Ketiga

Dari Abu Umamah radhiyallaHu ‘anHu, Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang membaca ayat kursi dibelakang shalat wajib, niscaya tidak ada yang menghalanginya dari masuk surga selain kematian” (HR. An Nasa’i, Ibnu Sunny no. 121 dan Ibnu Hibban, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Silsilatush Shahihah no. 972. Lihat juga Kitab Zadul Ma’aad oleh Ibnul Qayyim 1/303-304 dengan ta’liq Syu’aib Arnauth dan Abdul Qadir Arnauth)

Hadits Keempat

Dari Uqbah bin Amir radhiyallaHu ‘anHu, Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkanku, supaya aku membaca Al Mu’awidzaat di belakang setiap shalat wajib” (HR, Ahmad 4/155, Abu Dawud no. 1523, An Nasai 3/58, Ibnu Hibban no. 2347, Hakim 1/253 dan Ibnu Khuzaimah no. 755, hadits ini dishahihkan oleh Imam Adz Dzahabi dan Al Hakim)

Al Mu’awidzaat adalah membaca : Surat Al Ikhlas, Surat Al Falaq dan Surat An Naas.

Hadits Kelima

Membaca,

“Laa ilaaHa illallaaHu wahdaHu laa syariika laHu, laHul mulku wa laHul hamdu wa Huwa ‘alaa kulli syai-in qadiirun, AllaHumma laa maani’a limaa a’thayta wa laa mu’thiya limaa mana’ta wa laa yanfa’u dzal jaddi minkal jaddu”

yang artinya

“Tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala pujian. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu

Yaa Allah, tidak ada yang mencegah apa yang Engkau beri dan tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau cegah. Tidak berguna kekayaan dan kemuliaan itu bagi pemiliknya dari (siksa)-Mu” (HR. al Bukhari no. 884, Muslim no. 593, Abu Dawud no. 1505, an Nasai III/59-60 dan lainnya)

Hadits Keenam

Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa setelah shalat maghrib dan shubuh membaca, ‘Laa ilaaHa illallaHu wahdaHu laa syariika laHu, laHul mulku wa laHul hamdu yuhyii wa yumiitu wa Huwa ‘alaa kulli syai-in qadiirun’ sepuluh kali, (maka) Allah akan tulis setiap satu kali sepuluh kebaikan , dihapus sepuluh kejelekan, diangkat 10 derajat, Allah lindungi dari setiap kejelekan dan Allah lindungi dari godaan syaithan yang terkutuk” (HR. at Tirmidzi no. 3474 dan Ahmad IV/227, at Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan gharib shahih”, lihat pula Shahiih at Targhib wat Tarhib no. 474 oleh Syaikh al Albani)

Hadits Ketujuh

Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam pernah memberikan wasiat kepada Mu’adz agar dia setelah shalat mengucapkan,

“AllaHumma a’innii ‘alaa dzikrika, wa syukrika wa husni ‘ibaadatika” yang artinya “Ya Allah, tolonglah aku untuk berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, serta beribadah dengan baik kepada-Mu” (HR. Abu Dawud no. 1522, an Nasai III/53, Ahmad V/245 dan lainnya, dishahihkan oleh al Hakim dan disepakati oleh adz Dzahabi)

Adapun adab berdzikir yang sesuai dengan sunnah adalah sebagai berikut :

Pertama, dilakukan dengan suara lemah lembut/merendahkan suara, karena Allah Ta’ala berfirman,

“Wadzkur rabbaka fii nafsika tadharru’aaw wa khiifataw wa duunal jahri minal qauli bil ghuwwi wal ashaali wa laa takum minal ghaafiliin” yang artinya “Dan sebutlah nama Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut dan dengan tidak mengeraskan suara di waktu pagi dan petang dan janganlah kamu termasuk orang – orang yang lalai” (QS Al A’raaf 205)

Kedua, hendaknya dilakukan sendirian atau tidak beramai – ramai atau tidak dipimpin oleh seseorang, karena jika dzikir secara beramai ramai atau dipimpin oleh seseorang maka menyelisihi firman Allah Ta’ala di atas pada surat Al A’raaf ayat 205 yaitu pada kalimat “dengan tidak mengeraskan suara” dan juga berdasarkan keumuman hadits berikut,

Dari Abu Hurairah radhiyallaHu ‘anHu, Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda, “Tujuh orang yang dilindungi Allah dalam naunganNya pada hari tidak ada naumgan selain naunganNya yaitu : Imam (pemimpin) yang adil…dan seseorang yang berdzikir kepada Allah di tempat yang sunyi lalu matanya mencucurkan (air mata)” (HR. al Bukhari)

Syaikh Hamid At Tuwaijiry dalam Kitabnya Inkaru At Takbir Al Jama’i wa Ghairihi berkata,

“Dalam Shahih Bukhari (no. 1830) dan Shahih Muslim (1704) dari ‘Ashim Al Ahwal dari Abu Utsman dari Abu Musa Radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Ketika Rasulullah berjihad pada perang Khaibar …, mereka (para sahabat) menyerukan takbir seraya membaca, ‘Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha illallah’ dengan suara keras,

Maka Rasulullah bersabda, ‘Tahanlah diri kalian, sesungguhnya kalian tidak berdoa kepada Dzat yang tuli maupun jauh, sesungguhnya kalian berdoa kepada Dzat yang Maha mendengar yang dekat dan Dia selalu bersama kalian’.

Jika Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam melarang orang – orang yang meneriakan takbir padahal mereka berada di tanah lapang, maka perbuatan orang – orang yang bersahut – sahutan di dalam Masjidil Haram lebih terlarang lagi, karena mereka telah melakukan beberapa bid’ah yaitu berdzikir dengan suara keras, bersama – sama melagukannya sebagaimana yang dilakukan paduan suara, mendendangkannya dan mengganggu orang lain, yang semuanya ini tidak boleh dilakukan”

Ketiga, jika menghitung bacaan dzikir maka hendaknya menggunakan jari – jari tangan kanan sebagaimana hadits berikut :

Abdullah bin Amr radhiyallaHu ‘anHu berkata, “Ra-aytu rasulullahi ya’qidut tasbiiha bi yamiinihi” yang artinya “Aku melihat Rasulullah menghitung bacaan tasbih (dengan jari – jari) tangan kanannya” (HR. Abu Dawud no. 1502, At Tirmidzi no. 3486, Al Hakim I/547 dan Baihaqi II/253, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahiih At Tirmidzi III/146 dan Shahiih Abu Dawud I/280)

Maraji’ :

Al Masaa-il Jilid 1, Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat, Darus Sunnah, Jakarta, Cetakan Kelima, 2005.

Dzikir Jama’i, Muhammad bin Abdurrahman Al Khumais, Darus Sunnah Press, Jakarta, Cetakan Pertama, Desember 2004

Dzikir Pagi Petang, Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Pustaka Imam Asy Syafi’i, Cetakan Pertama, Desember 2004.

Kumpulan Doa dari al Qur’an dan as Sunnah yang Shahih, Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Pustaka Imam Syafi’I, Cetakan Ketiga, Rabi’ul Awwal 1427 H/April 2006 M.

(http://diserambimesjid.blogspot.com/2009/10/dzikir-nabi-setelah-shalat-fardhu.html)

Dan Mataharilah yang Mengelilingi Bumi

Untuk memudahkan penjelasan bahwa matahari yang mengelilingi Bumi maka yang harus difahami pertama kali adalah mengetahui siapa yang diam dan siapa yang bergerak ?. Berikut penjelasan dari al Qur’an dan as Sunnah, serta penjelasan para salafush shalih yang menafsirkan ayat-ayat tersebut :

(1) Bumi Diam, tidak bergerak.

Firman Allah Ta’ala,

“Wa min aayaatiHi an taquumas samaa-u wal ardhu bi amrih …” yang artinya “Dan diantara tanda-tanda kekuasaannya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradatnya …” (QS. Ar Rum : 25)

Pada terjemahan al Qur’an, al qiyaam pada QS. Ar Rum ayat 25 diterjemahkan sebagai berdiri, namun di ayat lain yaitu QS. Al Baqarah ayat 20, al qiyaam diterjemahkan dengan berhenti,

“… wa idzaa azhlama ‘alaiHim qaamuu …” yang artinya “… dan apabila gelap menimpa mereka, mereka berhenti …” (QS. Al Baqarah : 20)

Berkata Imam Ibnu Mandhur dalam Lisaanul ‘Arab,

“al Qiyaam juga bisa berarti berhenti dan tetap di satu tempat. Dikatakan kepada orang yang berjalan, ‘quflii’, artinya, ‘diamlah engkau di tempatmu sehingga saya datang kepadamu’. Demikian juga kata qumlii maknanya sama dengan quflii. Dari sinilah para ulama menafsirkan firman Allah Ta’ala,

“… wa idzaa azhlama ‘alaiHim qaamuu …” yang artinya “… dan apabila gelap menimpa mereka, mereka berhenti …” (QS. Al Baqarah : 20)

Para ulama lughah dan tafsir mengatakan bahwa makna qaamuu adalah berhenti dan diam di satu tempat, tidak maju dan tidak mundur. Diantara makna ini adalah firman Allah Ta’ala,

“Wa min aayaatiHi an taquumas samaa-u wal ardhu bi amrih …” yang artinya “Dan diantara tanda-tanda kekuasaannya ialah behentinya langit dan bumi dengan iradatnya …” (QS. Ar Rum : 25)

Artinya diam dan tetap, serta tidak bergerak dan tidak pula berputar” (Lisaanul ‘Arab 12/498)

Berkata Imam al Baghawi, “Berkata Ibnu Mas’ud radhiyallaHu ‘anHu, ‘Keduanya berhenti di tempatnya dengan izin Allah’”.

Berkata Ibnu Katsir tentang ayat di atas (yaitu QS. Ar Rum : 25), “Firman Allah Ta’ala di atas sama dengan firman Allah Ta’ala, ‘Dan Dia menahan langit jatuh ke Bumi’ (QS. Al Hajj 65). Juga firman-Nya, ‘Sesungguhnya Allah menahan langit dan Bumi supanya jangan lenyap’ (QS. Faathir : 41)”.

Ini adalah dalil naqli pertama yang menjelaskan bahwa Bumi itu diam, tidak bergerak.

Yang kedua, Firman Allah Ta’ala,

“Am ja’alal ardha qaraaran …” yang artinya “Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam …” (QS. An Naml : 61).

Berkata Imam Ibnu Katsir, “’Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam’. Qaraar maksudnya adalah diam, tenang, tetap tidak bergerak serta tidak membuat guncang penghuninya, karena bumi seandainya seperti itu maka tidak mungkin bisa dibuat hidup (dihuni) dengan baik, akan tetapi Allah menjadikannya sesuatu yang terhampar, tidak berguncang dan tidak bergerak”

Berkata Imam Baghawi, “Makna qaraar adalah tidak bergerak bersama penghuninya”.

Hal ini karena memang qaraar artinya adalah tetap dan tenang di suatu tempat, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam al Fairuz Abadi dalam al Qamus al Muhith 2/119 dan Ibnu Mandhur dalam Lisaanul Arab 5/86.

Yang Ketiga, firman Allah Ta’ala,

“Waj’alnaa fil ardhi rawaasiya an tamiida biHim …” yang artinya “Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka …” (QS. Al Anbiyaa : 21)

Yang Keempat, firman Allah Ta’ala

“Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk” (QS. An Nahl : 15)

Yang Kelima, firman Allah Ta’ala,

“Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran” (QS. Al Hijr : 19)

Imam Ibnu Katsir saat menafsirkan firman Allah Ta’ala, “Dan menjadikan padanya gunung-gunung”, berkata, “Maksudnya adalah gunung-gunung yang tinggi besar yang bisa untuk memantapkan bumi agar tidak bergerak bersama kalian”

Berkata Imam al Qurthuby saat menafsirkan firman Allah Ta’ala, “Dan menjadikan padanya gunung-gunung”, “Maksudnya adalah gunung-gunung yang bisa menahan dan mencegah bumi dari bergerak”

Dalil yang keenam, Firman Allah Ta’ala,

“Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan dan gunung-gunung sebagai pasak” (QS. An Nabaa’ : 6-7)

Imam Ibnu Katsir menjelaskan firman Allah Ta’ala, “Dan gunung-gunung sebagai pasak”, “Maksudnya ialah Allah Ta’ala menjadikan di bumi pasak yang bisa memantapkan bumi sehingga menjadi tenang dan tidak bergerak bersama yang di atasnya”.

Demikianlah nash-nash al Qur’an yang menjelaskan bahwa bumi itu diam, tidak bergerak. Lalu jika bumi itu diam apakah dia bisa bergerak mengelilingi matahari !?

(2) Mataharilah yang bergerak.

Berdasarkan firman-firman Allah Ta’ala berikut ini,

“Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui” (QS. Yasiin : 38)

“Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya” (QS. Al Anbiyaa’ : 33)

Dari dalil di atas telah jelaslah bagi orang-orang yang berakal bahwa yang beredar adalah matahari sementara bumi diam tidak bergerak !.

Perhatikan hadits shahih berikut ini :

Dari Abu Dzar radhiyallaHu ‘anHu, berkata Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam kepada Abu Dzar radhiyallaHu ‘anHu ketika matahari terbenam,

“Tahukah kamu, kemanakah matahari itu pergi ?”

Abu Dzar berkata, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui”

Beliau ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda,

“Fa innaHaa tadzHabu hatta tasjuda tahtal ‘arsyi fatasta’dzinu fayu’dzana laHa wa tuusyiku an tasjuda falaa yuqbala minHaa wa tasta’dzinu falaa yu’dzana laHaa yuqaalu laHar ji’ii min haytsu ji’ti fatathlu’u min maghribi fa dzaalika qauluHu ta’alaa,

wa syamsu tajrii limustaqarril laHaa dzaalika taqdiirul ‘aziizil ‘aliimi”

yang artinya,

“Sesungguhnya matahari itu pergi hingga ia sujud di bawah ‘arsy, lalu ia minta izin (untuk terbit lagi) lalu ia diizinkan. Dan hampir terjadi ketika ia hendak sujud lalu tidak diterima dan minta izin lalu tidak diizinkan. Dan dikatakan kepadanya, ‘Kembalilah ke tempat kamu datang kepada-Ku’, maka ia terbit dari barat. Itulah firman Allah Ta’ala,

‘Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui’ (QS. Yaasin : 38)”. (HR. al Bukhari dalam Kitab Shahihnya dalam Bab Shifatisy Syamsi wal Qamari bi Husbaanin)

Siapakah yang bergerak pergi pada hadits tersebut, matahari ataukah bumi ? Yang pasti jawabannya adalah matahari.

Maka dari itu para salafush shalih menyatakan bahwa mataharilah yang beredar mengelilingi Bumi bukan sebaliknya. Berkata Imam Ibnu Hazm,

“Terdapat sebuah dalil yang tetap dan bisa langsung disaksikan dengan panca indra bahwa matahari yang mengelilingi bumi dari timur ke barat dan barat ke timur” (al Fishal 2/99)

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah,

“Siapa pun yang berada di Bumi lalu melihat keadaan matahari saat terbit, saat berada di tengah-tengah, juga saat tenggelam; di tiga waktu ini matahari berada pada kejauhan yang sama dan juga dalam satu bentuk, maka dia akan mengetahui bahwa matahari itu beredar dalam sebuah garis edar yang berbentuk bulat” (Majmu’ Fatawaa 6/597)

Berkata al Hafizh Ibnu Hajar saat menerangkan hadits Abu Dzar dalam Shahih Bukhari,

“Maksud dari keterangan ini adalah menjelaskan bahwa matahari beredar setiap hari setiap malam. Hal ini berbeda dengan apa yang diklaim oleh ahli perbintangan (astronom) bahwa matahari menempel di garis orbit dan hal ini berkonsekwensi bahwasannya yang beredar itu garis orbitnya, sedangkan zhahir hadits ini bahwa mataharilah yang beredar dan bergerak” (Fathul Bari 6/360)

Berkata Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz,

“Al Qur’an dan as Sunnah serta kesepakatan para ulama dan realita yang ada menunjukkan bahwa matahari beredar di garis edarnya sebagaimana yang ditetapkan oleh Allah Ta’ala sedangkan bumi itu tetap tidak bergerak, yang mana Allah menyiapkan sebagai tempat tinggal dan Allah memantapkannya dengan gunung-gunung agar tidak bergerak bersama mereka” (al Adillah an Naqliyah wal Hissiyah hal. 26 dan 30)

Berkata Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin,

“Sesungguhnya mataharilah yang beredar mengelilingi bumi yang dengannya terjadi pergantian malam dengan siang” (Syarah Arba’in Nawawi hal. 289)

Demikianlah penjelasan ringkas bahwa mataharilah yang mengelilingi Bumi dan semoga seluruh kaum muslimin dapat terbuka mata hati dan akalnya untuk menerima nash-nash dari al Qur’an, as Sunnah dan pendapat para ulama serta menyakini pendapat itu sebagai pendapat yang kuat dan haq.

Akhirnya, di penghujung Buku Matahari Mengelilingi Bumi, Ustadz Ahmad Sabiq mengutip ucapan Nabiyullah Syu’aib ‘alaiHis sallam,

“Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali” (QS. Huud : 88)

Semoga Bermanfaat.

(Dalam tulisan ini terjemahan ayat-ayat al Qur’an yang saya gunakan adalah al Qur’an terjemahan Yayasan Penyelenggara Penterjemah al Qur’an yang ditunjuk oleh Menteri Agama RI dengan SK no. 26 tahun 1967. Salah seorang penterjemah al Qur’an ini adalah Prof. T. M. Hasbi ash Shidiqi.

Sedangkan sistematika dan isi saya ambil maraji’nya dari Buku Matahari Mengelilingi Bumi yang disusun oleh Ustadz Ahmad Sabiq dengan penerbit Pustaka al Furqan)

(http://diserambimesjid.blogspot.com/2009/09/dan-mataharilah-yang-mengelilingi-bumi.html)

Bersalaman Setelah Shalat

oleh : Syaikh Abdullah bin Aziz bin Baz

Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda,

“Maa min muslimayni yaltaqiyaani fayatashaa fahaani illa tahattat ‘anHuma dzunuubuHuma kamaa yatahaattusy syajarati waraquHaa” yang artinya “Tidaklah dua orang muslim berjumpa lalu bersalaman, kecuali akan berguguran dosa – dosa keduanya sebagaimana bergugurannya dedaunan dari pohonnya” (HR. Abu Dawud no. 5211, at Tirmidzi no. 2728, Ibnu Majah no. 3703 dan Ahmad 4/289)

Disukai bersalaman ketika berjumpa di mesjid atau dalam barisan, dan jika keduanya belum bersalaman sebelum shalat maka bersalamanlah setelahnya, hal ini sebagai pelaksanaan sunnah yang agung disamping karena hal ini bisa menguatkan persaudaraan dan menghilangkan permusuhan.

Kemudian jika belum sempat bersalaman sebelum shalat fardhu, disyariatkan untuk bersalaman setelahnya, yaitu setelah dzikir yang masyru’. Sedangkan yang dilakukan oleh sebagian orang, yaitu langsung bersalaman setelah shalat fardhu, yaitu pada saat tepat setelah salam, saya tidak tahu dasarnya.

Yang tampak malah itu makruh karena tidak adanya dalil, lagi pula yang disyariatkan bagi orang yang telah selesai shalat fardhu adalah langsung berdzikir sebagaimana yang biasa dilakukan oleh Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam setelah shalat fardhu.

Adapun shalat sunnah, maka disyariatkan bersalaman setelah salam jika sebelumnya belum sempat bersalaman, karena jika telah jika telah bersalaman sebelumnya maka hal itu sudah cukup.

(Fatawa Muhimmah Tata’alllaqu bish Shalah, hal. 50-52, Syaikh Ibnu Baz)

Maraji’ :

Fatwa – fatwa Terkini Jilid 1, Penyusun : Syaikh Khalid al Juraisiy, Darul Haq, Jakarta, Cetakan Kedua, Rabi’uts Tsani 1425 H/Mei 2004 M.

(http://diserambimesjid.blogspot.com/2009/09/bersalaman-setelah-shalat.html)

Batasan Aurat

Allah Ta’ala berfirman,

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid …” (QS. Al A’raaf : 31)

Yaitu tutupilah aurat kalian. Karena mereka dulu thawaf di Baitullah dengan telanjang.

Aurat laki – laki antara pusar dan lutut. Sebagaimana dalam hadits ‘Amr bin Syu’aib ra., dari ayahnya, dari kakeknya, secara marfu’, “Antara pusar dan lutut adalah aurat” (HR. Abu Dawud dan lainnya, dihasankan oleh Syaikh Albani dalam Irwaa’ul Ghalil no. 271)

Dari Jarhad al Aslami, ia berkata, “Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam lewat ketika aku mengenakan kain yang tersingkap hingga pahaku terlihat. Beliau bersabda,

‘Tutuplah pahamu, karena sesungguhnya paha adalah aurat’” (HR. Abu Dawud no. 3995 dan at Tirmidzi no. 2948, hadits ini shahih li ghairiHi, lihat Irwaa’ul Ghalil no. 269 oleh Syaikh Albani)

Sedangkan wanita, maka seluruh tubuhnya aurat kecuali wajah dan telapak tangannya dalam shalat berdasarkan sabda Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam,

“Al Mar-atu ‘awrah” yang artinya “Wanita adalah aurat” (HR. at Tirmidzi no. 1183, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahiih al Jaami’ush Shaghiir no. 6690)

Juga sabda beliau ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam,

“Allah tidak menerima shalat wanita yang sudah pernah haidh (baligh) kecuali dengan mengenakan kain penutup” (HR. Abu Dawud no. 627, at Tirmidzi no. 375 dan Ibnu Majah no. 655, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahiih Sunan Ibni Majah no. 534)

Maraji’ :

Panduan Fiqih Lengkap Jilid 1, Abdul Azhim bin Badawi Al Khalafi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Jumadil Akhir 1426 H/Juli 2005 M.

(http://diserambimesjid.blogspot.com/2009/09/batasan-aurat.html)

Bermegah-megahan Mendirikan Mesjid adalah Salah satu Tanda-tanda Kiamat

Dari Anas radhiyallaHu ‘anHu, Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda,

“Laa taquumus saa’atu hatta yatabaaHan naasu fil masaajidi” yang artinya “Tidak akan tegak hari kiamat sampai manusia bermegah-megah dengan (membangun) masjid-masjid (nya)” (HR. Abu Dawud no. 449)

Maka pada hari ini kita menyaksikan kebanyakkan dari kaum muslimin telah bermegah-megah di dalam membangun mesjid-mesjid mereka, siapa diantara mereka yang paling megah dan paling bagus bangunannya, serta yang paling cantik dalam menghiasinya, padahal Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda,

“Maa umirtu bitasy-yiidil masaajidi” yang artinya “Aku tidak diperintah untuk memegahkan masjid-masjid”.

Kemudian berkata Ibnu Abbas radhiyallaHu ‘anHu, “Sungguh kalian akan memperindah (masjid-masjid), sebagaimana Yahudi dan Nashara telah memperindah (tempat ibadah mereka)” (HR. Abu Dawud no. 448)

Maraji’ :

Telah Datang Zamannya, Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat, Pustaka Imam Muslim, Jakarta, Cetakan Pertama, Jumadits Tsaniyah 1426 H/Juli 2005 M, hal. 80-81.

(http://diserambimesjid.blogspot.com/2009/10/bermegah-megahan-mendirikan-mesjid.html)