Senin, 02 Agustus 2010

Dan Mataharilah yang Mengelilingi Bumi

Untuk memudahkan penjelasan bahwa matahari yang mengelilingi Bumi maka yang harus difahami pertama kali adalah mengetahui siapa yang diam dan siapa yang bergerak ?. Berikut penjelasan dari al Qur’an dan as Sunnah, serta penjelasan para salafush shalih yang menafsirkan ayat-ayat tersebut :

(1) Bumi Diam, tidak bergerak.

Firman Allah Ta’ala,

“Wa min aayaatiHi an taquumas samaa-u wal ardhu bi amrih …” yang artinya “Dan diantara tanda-tanda kekuasaannya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradatnya …” (QS. Ar Rum : 25)

Pada terjemahan al Qur’an, al qiyaam pada QS. Ar Rum ayat 25 diterjemahkan sebagai berdiri, namun di ayat lain yaitu QS. Al Baqarah ayat 20, al qiyaam diterjemahkan dengan berhenti,

“… wa idzaa azhlama ‘alaiHim qaamuu …” yang artinya “… dan apabila gelap menimpa mereka, mereka berhenti …” (QS. Al Baqarah : 20)

Berkata Imam Ibnu Mandhur dalam Lisaanul ‘Arab,

“al Qiyaam juga bisa berarti berhenti dan tetap di satu tempat. Dikatakan kepada orang yang berjalan, ‘quflii’, artinya, ‘diamlah engkau di tempatmu sehingga saya datang kepadamu’. Demikian juga kata qumlii maknanya sama dengan quflii. Dari sinilah para ulama menafsirkan firman Allah Ta’ala,

“… wa idzaa azhlama ‘alaiHim qaamuu …” yang artinya “… dan apabila gelap menimpa mereka, mereka berhenti …” (QS. Al Baqarah : 20)

Para ulama lughah dan tafsir mengatakan bahwa makna qaamuu adalah berhenti dan diam di satu tempat, tidak maju dan tidak mundur. Diantara makna ini adalah firman Allah Ta’ala,

“Wa min aayaatiHi an taquumas samaa-u wal ardhu bi amrih …” yang artinya “Dan diantara tanda-tanda kekuasaannya ialah behentinya langit dan bumi dengan iradatnya …” (QS. Ar Rum : 25)

Artinya diam dan tetap, serta tidak bergerak dan tidak pula berputar” (Lisaanul ‘Arab 12/498)

Berkata Imam al Baghawi, “Berkata Ibnu Mas’ud radhiyallaHu ‘anHu, ‘Keduanya berhenti di tempatnya dengan izin Allah’”.

Berkata Ibnu Katsir tentang ayat di atas (yaitu QS. Ar Rum : 25), “Firman Allah Ta’ala di atas sama dengan firman Allah Ta’ala, ‘Dan Dia menahan langit jatuh ke Bumi’ (QS. Al Hajj 65). Juga firman-Nya, ‘Sesungguhnya Allah menahan langit dan Bumi supanya jangan lenyap’ (QS. Faathir : 41)”.

Ini adalah dalil naqli pertama yang menjelaskan bahwa Bumi itu diam, tidak bergerak.

Yang kedua, Firman Allah Ta’ala,

“Am ja’alal ardha qaraaran …” yang artinya “Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam …” (QS. An Naml : 61).

Berkata Imam Ibnu Katsir, “’Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam’. Qaraar maksudnya adalah diam, tenang, tetap tidak bergerak serta tidak membuat guncang penghuninya, karena bumi seandainya seperti itu maka tidak mungkin bisa dibuat hidup (dihuni) dengan baik, akan tetapi Allah menjadikannya sesuatu yang terhampar, tidak berguncang dan tidak bergerak”

Berkata Imam Baghawi, “Makna qaraar adalah tidak bergerak bersama penghuninya”.

Hal ini karena memang qaraar artinya adalah tetap dan tenang di suatu tempat, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam al Fairuz Abadi dalam al Qamus al Muhith 2/119 dan Ibnu Mandhur dalam Lisaanul Arab 5/86.

Yang Ketiga, firman Allah Ta’ala,

“Waj’alnaa fil ardhi rawaasiya an tamiida biHim …” yang artinya “Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka …” (QS. Al Anbiyaa : 21)

Yang Keempat, firman Allah Ta’ala

“Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk” (QS. An Nahl : 15)

Yang Kelima, firman Allah Ta’ala,

“Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran” (QS. Al Hijr : 19)

Imam Ibnu Katsir saat menafsirkan firman Allah Ta’ala, “Dan menjadikan padanya gunung-gunung”, berkata, “Maksudnya adalah gunung-gunung yang tinggi besar yang bisa untuk memantapkan bumi agar tidak bergerak bersama kalian”

Berkata Imam al Qurthuby saat menafsirkan firman Allah Ta’ala, “Dan menjadikan padanya gunung-gunung”, “Maksudnya adalah gunung-gunung yang bisa menahan dan mencegah bumi dari bergerak”

Dalil yang keenam, Firman Allah Ta’ala,

“Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan dan gunung-gunung sebagai pasak” (QS. An Nabaa’ : 6-7)

Imam Ibnu Katsir menjelaskan firman Allah Ta’ala, “Dan gunung-gunung sebagai pasak”, “Maksudnya ialah Allah Ta’ala menjadikan di bumi pasak yang bisa memantapkan bumi sehingga menjadi tenang dan tidak bergerak bersama yang di atasnya”.

Demikianlah nash-nash al Qur’an yang menjelaskan bahwa bumi itu diam, tidak bergerak. Lalu jika bumi itu diam apakah dia bisa bergerak mengelilingi matahari !?

(2) Mataharilah yang bergerak.

Berdasarkan firman-firman Allah Ta’ala berikut ini,

“Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui” (QS. Yasiin : 38)

“Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya” (QS. Al Anbiyaa’ : 33)

Dari dalil di atas telah jelaslah bagi orang-orang yang berakal bahwa yang beredar adalah matahari sementara bumi diam tidak bergerak !.

Perhatikan hadits shahih berikut ini :

Dari Abu Dzar radhiyallaHu ‘anHu, berkata Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam kepada Abu Dzar radhiyallaHu ‘anHu ketika matahari terbenam,

“Tahukah kamu, kemanakah matahari itu pergi ?”

Abu Dzar berkata, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui”

Beliau ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda,

“Fa innaHaa tadzHabu hatta tasjuda tahtal ‘arsyi fatasta’dzinu fayu’dzana laHa wa tuusyiku an tasjuda falaa yuqbala minHaa wa tasta’dzinu falaa yu’dzana laHaa yuqaalu laHar ji’ii min haytsu ji’ti fatathlu’u min maghribi fa dzaalika qauluHu ta’alaa,

wa syamsu tajrii limustaqarril laHaa dzaalika taqdiirul ‘aziizil ‘aliimi”

yang artinya,

“Sesungguhnya matahari itu pergi hingga ia sujud di bawah ‘arsy, lalu ia minta izin (untuk terbit lagi) lalu ia diizinkan. Dan hampir terjadi ketika ia hendak sujud lalu tidak diterima dan minta izin lalu tidak diizinkan. Dan dikatakan kepadanya, ‘Kembalilah ke tempat kamu datang kepada-Ku’, maka ia terbit dari barat. Itulah firman Allah Ta’ala,

‘Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui’ (QS. Yaasin : 38)”. (HR. al Bukhari dalam Kitab Shahihnya dalam Bab Shifatisy Syamsi wal Qamari bi Husbaanin)

Siapakah yang bergerak pergi pada hadits tersebut, matahari ataukah bumi ? Yang pasti jawabannya adalah matahari.

Maka dari itu para salafush shalih menyatakan bahwa mataharilah yang beredar mengelilingi Bumi bukan sebaliknya. Berkata Imam Ibnu Hazm,

“Terdapat sebuah dalil yang tetap dan bisa langsung disaksikan dengan panca indra bahwa matahari yang mengelilingi bumi dari timur ke barat dan barat ke timur” (al Fishal 2/99)

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah,

“Siapa pun yang berada di Bumi lalu melihat keadaan matahari saat terbit, saat berada di tengah-tengah, juga saat tenggelam; di tiga waktu ini matahari berada pada kejauhan yang sama dan juga dalam satu bentuk, maka dia akan mengetahui bahwa matahari itu beredar dalam sebuah garis edar yang berbentuk bulat” (Majmu’ Fatawaa 6/597)

Berkata al Hafizh Ibnu Hajar saat menerangkan hadits Abu Dzar dalam Shahih Bukhari,

“Maksud dari keterangan ini adalah menjelaskan bahwa matahari beredar setiap hari setiap malam. Hal ini berbeda dengan apa yang diklaim oleh ahli perbintangan (astronom) bahwa matahari menempel di garis orbit dan hal ini berkonsekwensi bahwasannya yang beredar itu garis orbitnya, sedangkan zhahir hadits ini bahwa mataharilah yang beredar dan bergerak” (Fathul Bari 6/360)

Berkata Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz,

“Al Qur’an dan as Sunnah serta kesepakatan para ulama dan realita yang ada menunjukkan bahwa matahari beredar di garis edarnya sebagaimana yang ditetapkan oleh Allah Ta’ala sedangkan bumi itu tetap tidak bergerak, yang mana Allah menyiapkan sebagai tempat tinggal dan Allah memantapkannya dengan gunung-gunung agar tidak bergerak bersama mereka” (al Adillah an Naqliyah wal Hissiyah hal. 26 dan 30)

Berkata Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin,

“Sesungguhnya mataharilah yang beredar mengelilingi bumi yang dengannya terjadi pergantian malam dengan siang” (Syarah Arba’in Nawawi hal. 289)

Demikianlah penjelasan ringkas bahwa mataharilah yang mengelilingi Bumi dan semoga seluruh kaum muslimin dapat terbuka mata hati dan akalnya untuk menerima nash-nash dari al Qur’an, as Sunnah dan pendapat para ulama serta menyakini pendapat itu sebagai pendapat yang kuat dan haq.

Akhirnya, di penghujung Buku Matahari Mengelilingi Bumi, Ustadz Ahmad Sabiq mengutip ucapan Nabiyullah Syu’aib ‘alaiHis sallam,

“Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali” (QS. Huud : 88)

Semoga Bermanfaat.

(Dalam tulisan ini terjemahan ayat-ayat al Qur’an yang saya gunakan adalah al Qur’an terjemahan Yayasan Penyelenggara Penterjemah al Qur’an yang ditunjuk oleh Menteri Agama RI dengan SK no. 26 tahun 1967. Salah seorang penterjemah al Qur’an ini adalah Prof. T. M. Hasbi ash Shidiqi.

Sedangkan sistematika dan isi saya ambil maraji’nya dari Buku Matahari Mengelilingi Bumi yang disusun oleh Ustadz Ahmad Sabiq dengan penerbit Pustaka al Furqan)

(http://diserambimesjid.blogspot.com/2009/09/dan-mataharilah-yang-mengelilingi-bumi.html)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar